Selamat datang di Program Studi Magister Ilmu Komunikasi

  • 0711-515582
  • admin@binadarma.ac.id

MIK UBD Ajak Siswa IISM Malaysia Bijak Bermedia melalui Kampanye “Empathy Before You Share”

Pemanfaatan media digital yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda mendorong Program Studi Magister Ilmu Komunikasi (MIK) Universitas Bina Darma (UBD) untuk menghadirkan edukasi yang tidak hanya berbicara tentang kecakapan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana berkomunikasi secara bertanggung jawab. Gagasan tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di International Islamic School of Malaysia (IISM) pada 24 Agustus 2026.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian International Program UBD tersebut mengangkat tema “Empathy Before You Share” dan ditujukan kepada siswa kelas 10 Al Farabi pada program Malay Foreign Language. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan akademisi MIK UBD untuk berbagi pengetahuan mengenai perilaku bermedia yang cerdas, kreatif, dan tetap memperhatikan nilai etika.

Guru kelas Malay Foreign Language IISM,, menyampaikan bahwa peserta didiknya memiliki latar belakang kewarganegaraan yang beragam. Siswa yang mengikuti program tersebut berasal dari sejumlah negara, antara lain China, Bangladesh, Thailand, dan Uni EmiraNor Adzua Yacoobt Arab.

Keberagaman tersebut memberikan konteks tersendiri dalam kegiatan literasi digital. Peserta tidak hanya berasal dari lingkungan budaya yang berbeda, tetapi juga memiliki pengalaman yang beragam dalam menggunakan media digital. Kondisi ini membuat pembahasan mengenai cara menyampaikan pesan, memahami orang lain, dan mempertimbangkan dampak sebuah unggahan menjadi semakin relevan.

Bagi MIK UBD, pengabdian kepada masyarakat di lingkungan sekolah internasional tersebut juga menjadi bagian dari penerapan keilmuan komunikasi secara langsung. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik melalui pembelajaran dan penelitian, tetapi juga berkesempatan mengomunikasikan pengetahuan yang dimiliki kepada peserta dari latar belakang budaya yang berbeda.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UBD, Dr. Agustin Rozalena, M.I.Kom., mengatakan bahwa literasi digital perlu dikembangkan dengan pendekatan yang sesuai dengan keseharian generasi muda.

“Generasi muda saat ini sangat dekat dengan media sosial dan berbagai platform digital. Karena itu, yang perlu diperkuat bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kesadaran mengenai apa yang kita komunikasikan dan bagaimana pesan tersebut dapat diterima oleh orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, pesan Empathy Before You Share berangkat dari kebiasaan sederhana yang sering terlupakan ketika seseorang beraktivitas di ruang digital, yakni memberikan jeda sebelum menyebarkan sebuah informasi.

“Ketika ingin membagikan sebuah konten, kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: apakah informasi ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah ada orang lain yang mungkin terdampak? Kebiasaan sederhana tersebut merupakan bagian dari kecakapan komunikasi digital,” jelasnya.

Mahasiswa MIK UBD Turun Langsung

Kegiatan ini melibatkan mahasiswa MIK UBD Angkatan 13–15 yang sedang berada pada tahap penyelesaian tesis, khususnya yang mengembangkan kajian terkait komunikasi digital dan komunikasi publik. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari pengalaman menerapkan pengetahuan akademik dalam konteks komunikasi yang nyata.

Salah satu mahasiswa MIK UBD, Muhammad Adib, Angkatan 15, menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut dengan didampingi Ria Maulina sebagai moderator. Keduanya menyampaikan materi kepada siswa dengan pendekatan yang interaktif dan dekat dengan pengalaman peserta dalam menggunakan media sosial.

Adib menjelaskan bahwa pesan Empathy Before You Share tidak dimaksudkan untuk mengajarkan generasi muda agar menjauhi media digital. Sebaliknya, media dipandang sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan untuk belajar, berekspresi, berkreasi, dan membangun komunikasi dengan orang lain.

“Media digital memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk berkarya dan berkomunikasi. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak. Sebelum membagikan sesuatu, kita perlu memastikan informasinya dan mempertimbangkan bagaimana pesan tersebut dapat memengaruhi orang lain,” ungkap Adib.

Ia menambahkan, kemampuan digital perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami perspektif orang lain.

“Bagi saya, empati dalam komunikasi digital berarti kita tidak hanya berpikir tentang apa yang ingin kita katakan, tetapi juga memikirkan bagaimana orang lain mungkin menerima pesan tersebut. Jadi, sebelum share, ada baiknya kita berhenti sejenak dan berpikir,” tambahnya.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena komunikasi di media sosial memiliki karakter yang berbeda dengan komunikasi tatap muka. Sebuah pesan dapat menyebar dengan cepat, menjangkau audiens yang luas, dan tersimpan dalam waktu yang panjang. Kesalahan dalam memahami konteks atau menyampaikan informasi dapat menimbulkan dampak yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan mudah.

Karena itu, literasi media digital dalam kegiatan ini diarahkan pada pembentukan kebiasaan. Peserta diajak untuk mengenali informasi, memahami konteks pesan, mempertimbangkan dampak komunikasi, serta menggunakan media sebagai sarana yang produktif.

Membangun Budaya Komunikasi Digital yang Berempati

Kegiatan di IISM juga memperlihatkan bahwa literasi digital memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membedakan informasi yang benar dan salah. Di dalamnya terdapat aspek etika, tanggung jawab, kesadaran sosial, dan kemampuan memahami perspektif orang lain.

Interaksi dengan siswa dari berbagai latar belakang negara sekaligus memberikan pengalaman bahwa komunikasi digital berlangsung dalam ruang yang semakin terbuka dan multikultural. Pesan yang dianggap biasa oleh seseorang belum tentu dimaknai dengan cara yang sama oleh orang lain.

Dalam konteks tersebut, empati menjadi salah satu kemampuan yang dapat membantu generasi muda berkomunikasi secara lebih bijaksana.

Bagi MIK UBD, kegiatan pengabdian di IISM menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam membangun budaya komunikasi digital yang sehat. Pengetahuan komunikasi yang diperoleh mahasiswa selama proses akademik tidak berhenti pada ruang kelas atau tesis, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Melalui “Empathy Before You Share”, pesan yang dibangun sederhana, tetapi memiliki relevansi luas, yaitu berhenti sejenak sebelum membagikan sesuatu, periksa informasinya, pahami konteksnya, dan pikirkan dampaknya terhadap orang lain. Dengan kebiasaan tersebut, penggunaan teknologi diharapkan tidak hanya semakin cakap, tetapi juga semakin manusiawi. (alen.r)

 

MIK UBD Ajak Siswa IISM Malaysia Bijak Bermedia melalui Kampanye “Empathy Before You Share”